Jelang peringatan Hari Sumpah Pemuda yang dirayakan setiap tanggal 28 Oktober, SMK Plus NU Sidoarjo (Skanusda) menggelar upacara bendera. Menariknya, usai upacara Pimpinan Komisariat (PK) menggelar drama kolosal.
Sutradara drama kolosal Sahanna Rayya menjelaskan, drama tersebut menceritakan peran dan perjuangan pemuda mengusir penjajah. Karakter pemerannya juga berbeda-beda, mencerminkan perbedaan pemuda dari berbagai suku tetapi dipersatukan dalam sumpah.
“Awalnya ada usulan anak-anak gimana peringatan Sumpah Pemuda tidak hanya upacara saja,” jelas Hanna, sapaannya saat ditemui usia gelaran drama kolosal, Jumat (27/10/2023).
Ia mengaku, muncul ide spontanitas untuk membuat drama usai upacara Hari Sumpah Pemuda. Dan, semua anggota PK sepakat dengan ide tersebut.
Meskipun, lanjutnya, waktu penggarapan dan latihan hanya seminggu. Sehingga, penampilannya dirasa masih belum maksimal. “Sebenarnya, butuh waktu minimal sebulan untuk memaksimalkan tampilan,” terangnya.
Selain itu, kata Hanna, anak-anak latihan tanpa didampingi pelatih atau pembina. “Sepulang sekolah kami latihan. Jika kesulitan kami lihat di youtube,” katanya.
Properti pertunjukan pun memanfaatkan barang yang tidak terpakai di sekolah, seperti kardus dan lain-lain. Meski demikian tidak mengurangi makna perjuangan yang diperagakan.
Usai melihat pertunjukan, Kepala SMK Plus NU Sidoarjo M. Zakariya mengaku terkesan dengan tampilan tersebut. Pasalnya, anak-anak telah menunjukkan kreatiftasnya bisa membuat pertunjukan drama kolosal.
“Ini menarik. Tetapi yang paling penting anak-anak telah memiliki kesadaran tentang pentingnya peran pemuda dalam mengubah bangsa yang dikemas dalam pertunjukan drama. Dan itu tanpa di suruh, alias murni inisiatif,” ungkap Zakariya. (Fidela/Nayla)













Add Comment