Memperingati Bulan Bahasa tahun ini anggota ekstrakurikuler Jurnalistik SMK Plus NU Sidoarjo (Skanusda) melaksanakan kunjungan ke Museum Negeri Mpu Tantular.
Salah satu kontributor Jurnalistik Skanusda Regita Rizki Octavia menjelaskan, kunjungan tersebut merupakan bagian dari program kerja sekaligus tugas dari mentor ektrakurikuler Jurnalistik Akhmad Anis Fahmi.
“Selama di museum kami berburu literatur sejarah dan benda-benda bersejarah di sana,” kata Via sapaannya, Sabtu (11/10/2025).
Ia menambahkan, kegiatan tersebut bertujuan untuk menambah wawasan sejarah, budaya, peradaban masa lalu.
Selain itu, juga berkesempatan untuk melakukan observasi langsung terhadap koleksi museum sebagai bahan pembelajaran dan laporan Jurnalistik.
Pembina ekstrakurikuler Jurnalistik, Fatich Masturo S.Pd, menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat melatih kemampuan siswa dalam menulis berita berdasarkan fakta lapangan.
“Melalui kunjungan ini, siswa tidak hanya belajar teori jurnalistik di kelas, tetapi juga praktik langsung bagaimana menggali informasi dan menulis berita yang menarik,” ujar Fatich.
Kegiatan kali ini diharapkan menumbuhkan kecintaan terhadap nilai-nilai masa lalu.
Mpu Tantuar adalah seorang pujangga Jawa di masa Kerajaan Majapahit yang hidup pada masa pemerintahan Raja Hayam Muruk. Ia adalah pengarang Kitab Sutasoma, yang di dalamnya terdapat semboyan Bhineka Tunggal Ika yang menjadi moto negara Indonesia.
Meskipun penganut Buddha, ia dikenal sebaga pemikir yang toleran dan terbuka terhadap agama lain, seperti Hindu.
Museum Mpu Tantular didirikan pada tahun 1933 oleh Godfried von Faber sebagai Stedelijk Historish Museum Surabaya yang diresmikan pada 1937.
Nama tersebut berganti menjadi Museum Negeri Provinsi Jawa Timur Mpu Tantular pada 1974 dan kemudian berpindah lokasi ke Sidoarjo pada tahun 2004. (Rafi/Tasya)











Add Comment